Kamis, 07 Juni 2012
BP_bayu pradikto: Metode Kata Kunci dalam Pembelajaran Keaksaraan Fu...
BP_bayu pradikto: Metode Kata Kunci dalam Pembelajaran Keaksaraan Fu...: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ada beberapa alasan yang mendorong pentingnya merancang bahan ajar pendidikan keaksaraan...
Metode Kata Kunci dalam Pembelajaran Keaksaraan Fungsional
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ada beberapa alasan yang mendorong pentingnya merancang bahan ajar pendidikan keaksaraan secara efektif dan efisien. Pertama bahwa salah satu prioritas utama pembangunan pendidikan khususnya yang terkait dengan program pendidikan nonformal adalah mempercepat penuntasan buta aksara melalui program Pendidikan Keaksaraan ( UU No. 25 tentang Propenas, 1999). Tujuan program ini adalah untuk memberantas buta aksara, sekaligus meningkatkan mutu dan taraf hidup warga belajar melalui bahan belajar pendidikan keaksaraan yang fungsional untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapi warga belajar (buta aksara) dalam kehidupan keseharian, sehingga semakin lama semakin meningkat mutu kehidupannya.
Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar yang lebih bermakna bagi kehidupan warga belajar, program pendidikan keaksaraan perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Salah satu komponen penting yang perlu dikembangkan dalam program pendidikan keaksaraan adalah mutu bahan belajar. Bahan belajar pendidikan keaksaraan perlu dirancang sedemikian rupa agar relevan dan fungsional dalam membelajarkan warga belajar, sehingga mereka di samping meningkat kemampuan membaca, menulis, berhiitung dan berkomunikasi juga mampu memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
Tentu dalam menyampaikan bahan belajar dari perlu adanya suatu metode yang digunakan agar proses pembelajaran tersebut dapat berhasil dengan baik. Salah satu metode yang digunakan adalah metode kata kunci.
B. Rumusan Masalah
Dari penjabaran diatas, maka dapat di klasifikasikan beberapa masalah, antara lain :
1) Apa yang dimaksud metode kata kunci dalam pembelajaran keaksaraan fungsional (Calistung) ?
2) Apa saja kelemahan dan kelebihan metode kata kunci ?
3) Bagaimana langkah-langkah dalam menggunakan metode kata kunci ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1) Yang dimaksud metode kata kunci dalam pembelajaran keaksaraan fungsional (Calistung).
2) Kelemahan dan kelebihan metode kata kunci.
3) Langkah-langkah dalam menggunakan metode kata kunci.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode Kata Kunci
Metode belajar yang baik dalam pendidikan keaksaraan (Ditjen Dikmas, Depdiknas, 2006) perlu memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. membangkit motivasi belajar belajar warga belajar
b. relevan dengan lingkungan dan kehidupan warga belajar
c. fungsional dan langsung bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari warga belajar.
Memang banyak variasi metode yang di gunakan tutor dalam membelajarkan warga belajar ketepatan menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang sangat tergantung pada kemampuan dasar yang dimiliki warga belajar, oleh karena itu berbagai macam metode dapat digunakan sesuai dengan situasi, kondisi, minat dalam memilih metode tertentu.
Metode kata kunci dalam proses pembelajarannya, digunakan pula tema-tema penggerak dan kata-kata kunci yang diangkat dari masalah kehidupan masyarakat dan mengandung makna langsung bagi kehidupan warga belajar. Kata-kata kunci tersebut, dipilih dari berbagai alternatif kata yang diajukan oleh para warga belajar, kemudian kata-kata yang telah dipilih digunakan sebagai tema belajar untuk memancing pikiran kritis warga belajar, sejak awal kegiatan sampai dengan akhir kegiatan pembelajaran. Alasan digunakannya metode “kata kunci” ini adalah berdasarkan pertimbangan pentingnya menghubungkan baca-tulis dengan kehidupan nyata sehari-hari. Inti pembelajaran tematik, adalah untuk mengajak dan menyadarkan warga belajar agar terlibat dalam masalah yang dihadapi terus menerus (tetapi kurang disadari), yang sebenarnya mengganggu situasi dan keadaan mereka.
Oleh karena itu, langkah pertama yang mungkin dijalankan adalah mengaitkan masalah-masalah yang menjadi kendala setiap saat, menjadi potensi pembelajaran yang bermanfaat ke dalam proses pembelajaran Keaksaraan Fungsional. Dengan demikian, warga belajar tidak saja hanya belajar tentang kata-kata (CALISTUNG), tetapi juga diajak “membaca” dan berfikir tentang kehidupan nyata yang sering dialami. Disamping itu, proses pembelajaran keaksaraan menggunakan metode kata kunci tidak berfungsi hanya sekedar pengalihan-pengalihan informasi belaka. Implikasinya, proses pembelajaran CALISTUNG tidak hanya sekedar pemindahan pengetahuan dengan hafalan, melainkan mengajak warga belajar mengenal bentuk dan lafal kata yang belajar dari dunia kehidupannya.
B. Keunggulan dan Kelemahan
Keunggulan metode “key words” adalah
1) Metode ini didasarkan pada penggunaan topik – topik yang bermakna bagi kehidupan masyarakat,
2) Warga belajar diberi kesempatan untuk memberi masukan terhadap proses dan materi belajar,
3) Dimungkinkan adanya variasi kegiatan, bukan sekedar belajar membaca dan menulis,
4) Warga belajar dapat melihat dan merefleksikan, serta mendiskusikan berbagai masalah kehidupan yang mereka alami.
Sedangkan kelemahan metode ini adalah perlunya kehadiran tutor yang mampu menggerakkan diskusi, bersikap terbuka dan mau bersikap tidak menggurui.
C. Langkah-Langkah dalam Menggunakan Metode Kata Kunci
Adapun langkah-langkah dalam membelajarkan calistung kepada warga belajar dengan metode kata kunci sebagai berikut :
1. Tutor memilih satu kata yang saat itu (proses belajar) dikenal oleh semua warga belajar. Contoh : CELANA
2. Tutor menuliskan kata CELANA pada papan tulis dan membacanya dengan jelas yang diikuti oleh warga belajar.
3. Tutor membaca kata CELANA dengan menekankan pada pelafalan suku kata, kemudian warga belajar mengikutinya.
4. Tutor mengurai suku kata menjadi huruf, dan diikuti oleh warga belajar.
5. Tutor membuat kata-kata baru dari huruf-huruf tadi. Contoh : L-E-N-C-A-N-A
6. Dari kata tersebut, tutor dapat melanjutkan pembelajaran tentang membaca kalimat.
7. Warga belajar diajak menghitung kata.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Metode kata kunci yaitu tidak hanya mengenal dan menghafal huruf dalam abjad melainkan mengenal bentuk dan lafal dengan memilih kata kunci yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga belajar dan mudah dimengerti warga belajar.
Keunggulan dari metode ini adalah topik yang dipilih sesuai dengan hal-hal yang dimengerti dan akrab dengan warga belajar, warga belajar dapat memberikan masukan terhadap pembelajaran, dan dapat mengembangkan pola pemikiran warga belajar. Namun hal ini menuntut kehadiran tutor untuk menggerakkan suasana dan mau bersikap tidak menggurui.
B. Saran
Dalam pembelajaran metode kata kunci untuk warga belajar buta aksara, haruslah dipersiapkan dengan baik dan harus memahami konsep pendidikan orang dewasa (andragogy), dan hendaknya dalam proses pembelajaran harus memiliki variasi-variasi tertentu agar terhindar dari kejenuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Lab. Prodi PLS FKIP UNIB. 2007. Metode Pembelajaran Calistung pada Program Pemberantasan Buta Aksara. Bengkulu : Lab. Prodi PLS
Rabu, 06 Juni 2012
PENDIDIKAN KESETARAAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Beragam persoalan selalu mengikuti proses penyempurnaan pembangunan di bidang pendidikan Indonesia. Baik di bidang pendidikan formal, non formal maupun informal. Semua bidang memiliki kendala sendiri-sendiri. Pada jalur non formal (program pendidikan kesetaraan khususnya kejar paket A,B dan C)misalnya, hingga kini masih banyak hambatan social masyarakat. Hal ini disebabkan karena orang yang seharusnya mengikuti program pendidikan ini mayoritas berusia di atas 44 tahun, sehingga rata-rata mereka beranggapan, tak ada gunanya melanjutkan ke kesetaraan. Penyebab lainnya karena adanya perasaaan malu di kalangan warga belajar sendiri karena program paket A ini untuk kesetaraan sekolah dasar.
Meski menyadari adanya hambatan, namun pemerintah tatap menjalankan program ini. Karena hal ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dari pemerintah untuk memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada setiap warga negaranya untuk mengakses pendidikan.
Karena begitu banyak persoalan-persoalan yang ada pada pendidikan non formal khusuisnya pada program kesetaraan kejar paket A, B dan C maka dalam makalah ini akan membahas tentang program kesetaraan kejar paket A, B dan C
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, diangkat dan dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
a. Apa Pengertian Pendidikan Kesetaraan ?
b. Apa Saja Peranan dan Tujuan Pendidikan Kesetaraan ?
c. Apa Saja Kendala yang dihadapai dalam Pendidikan Kesetaraan ?
d. Program kejar Paket A ?
e. Program Kejar Paket B ?
f. Program Kejar Paket C ?
C. Prosedur Pemecahan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan di atas maka akan diselesaikan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu :
a. Pendekatan teori, secara teori akan menggunakan kajian-kajian pustaka yang relevan, hasil-hasil penelitian, makalah dan blog-blog website pendidikan.
b. Pendekatan praktis, dengan menggunakan data-data yang tersedia di lapangan.
D. Sistematika Uraian
Penulisan makalah ini diawali dengan kata pengantar yang berisi ucapan rasa syukur dan pengantar mengeni makalah yang akan dibahas oleh penulis. Kemudian Bab 1 mengenai pendahuluan yang didalamnya berisi, (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) metode penelitian, dan (4) sistematika penulisan.
Bab 2 mengenai ” Pendidikan kesetaraan program kejar paket A, B, dan C ” mencakup, (1) Apa Pengertian Pendidikan Kesetaraan (2), Apa Saja Peranan dan Tujuan Pendidikan Kesetaraan (3)Apa Saja Kendala yang dihadapai dalam Pendidikan Kesetaraan, (4) Program kejar Paket A, (5) Program Kejar Paket B, (6) Program Kejar Paket C.
Sedangkan Bab 3 membahas mengenai kesimpulan dan saran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Kesetaraan
Pendidikan kesetaraan ini merupakan kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam pendidikan luar sekolah sebagai suatu sub system pendidikan non formal. Yang dimaksud pendidikan non formal adalah “ pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat”. Dengan adanya batasa pengertian tersebut, rupanya pendidikan non formal tersebut berada antara pendidikan formal dan pendidikan informal.
Pendidikan Kesetaraan adalah salah satu satuan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal yang meliputi kelompok belajar (kejar) Program Paket A setara SD/MI, Program Paket B setara SMP/MTs, dan Program Paket C setara SMA/MA yang dapat diselenggarakan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Pusat kegiatan belajar Masyarakat (PKBM), atau satuan sejenis lainnya.
Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan mengganti.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka salah satu upaya yang ditempuh untuk memperluas akses pendidikan guna mendukung pendidikan sepanjang hayat adalah melalui pendidikan kesetaraan. Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum yang mencakup Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMU).
B. Peranan dan Tujuan Pendidikan Kesetaraan
1. Peranan Pendidikan Kesetaraan
Peran pendidikan Kesetaraan yang meliputi program Paket A, B dan C sangat strategis dalam rangka pemberian bekal pengetahuan. Penyelenggaraan program ini terutama ditujukan bagi masyarakat putus sekolah karena keterbatasan ekonomi, masyarakat yang bertempat tinggal di daerah-daerah khusus, seperti daerah perbatasan, daerah bencana, dan daerah yang terisolir yang belum memiliki fasilitas pendidikan yang memadai bahkan juga bagi TKI di luar negeri dan calon TKI.
Memahami nilai dan manfaat program pendidikan kesetaraan bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong masyarakat untuk berpartisipasi pada program yang diselenggarakan dengan antusias. Untuk skala nasional, penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan dimaksudkan sebagai upaya untuk mendukung dan mensukseskan program pendidikan wajib belajar 9 tahun yang merupakan penjabaran dari rencana strategis Departemen Pendidikan nasional yang meliputi perluasan akses, pemerataan, dan peningkatan mutu pendidikan.
2. Tujuan Pendidikan Kesetaraan
Tujuan pendidikan kesetaraan program kejar paket A, B dan C adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga belajar sehingga dpat memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang setara dengan lulusan sekolah, lulusan SMP, dan setara dengan lulusan SMA.
C. Kendala yang dihadapai dalam Pendidikan Kesetaraan
Mengajak warga masyarakat untuk belajar di kelompok belajar (Kejar) paket tidaklah mudah. Sesuai denga sebutannya yakni Kejar, kita betul-betul harus mengejar para calon warga belajar ini. Memotivasi mereka dan menjelaskan akan pentingnya pendidikan. Untuk itu memang perlu memiliki kemampuan dalam melakukan pendekatan terhadap sasaran didik ini. Maklumlah, mereka adalah orang-orang yang bermasalah. Bermasalah dalam artian berkaitan dengan berbagai masalah seperti masalah ekonomi sehingga membuat mereka tidak mampu melanjutkan pendidikannya di pendidikan formal.
Faktor-faktor yang paling sering mempengaruhi kegagalan mereka melanjutkan pendidikan formalnya antara lain yang paling signifikan adalah faktor ekonomi. Oleh karena itulah faktor ekonomilah yang lebih mereka perhatikan dari pada pendidikan. Pada saat melaksanakan proses belajar ini juga sarat dengan menghadapi berbagai kendala seperti warga belajar yang bermalas-malasan. Kendala lainya adalah masalah cuaca yang kurang bersahabat. Terutama sekali saat-saat musim penghujan. Pada musim penghujan biasanya warga belajar malas keluar rumah untuk diajak belajar.
Untuk memberikan semangat (motivasi) kepada warga belajar agar tetap senang belajar, maka pengelola program pendidikan kesetaraan diharapkan juga mendirikan Taman bacaan masyarakat (TBM), yaitu merupakan sarana belajar bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan mengembangkan pengetahuan guna memenuhi minat dan kebutuhan belajarnya yang bersumber dari bahan bacaan dan bahan pustaka lainnya. Ini semacam perpustakaan mini dan tersebar untuk menjangkau masyarakat yang jauh dari layanan perpustakaan. Ada dua sasaran prioritas utama sasaran pendirian taman bacaan masyarakat, pertama untuk peningkatan minat baca masyarakat dan kedua untuk memelihara kemampuan keaksaraan masyarakat. Disamping itu, diharapkan keberadaan TBM bisa menjadai tempat berkumpul warga masyarakat untuk sekedar ngobrol mempererat silaturahim tukar informasi untuk memperkaya wawasan. Dengan demikian TBM pun bisa berfungsi sebagai ruang publik untuk melakukan sosialisasi diri, termasuk mempromosikan/mengenalkan program-program pendidikan nonformal kepada masyarakat.
Dalam Pelaksanaan Program Paket A setara SD dan Paket B Setara SUP, berbagai permasalahan yang paling berat dihadapi, diuraikan sebagai berikut:
a. Warga belajar
Permasalahan yang berkaitan dengan warga belajar adalah:
a) lokasi tempat tinggal warga belajar saling berjauhan sehingga sulit mendapatkan satu kelompok sebanyak 40 orang warga belajar;
b) latar belakang sosial ekonomi warga belajar lemah sehingga frekuensi kehadirannya sangat rendah;
c) warga belajar menjadi pencari nafkah keluarga, mereka hanya belajar kalau waktu mengizinkan;
d) motivasi belajar rendah, mereka berpendapat tanpa belajarpun mereka sudah mendapatkan uang.
b. Tutor
Tugas tutor bukanlah mengajar tetapi membimbing warga belajar dalam memahami materi pelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu diperlukan tutor yang paham akan masalah Pendidikan.
Masalah yang menghambat pelaksanaan Paket A, B dan C adalah:
a) sulit mendapatkan tutor yang memiliki latar belakang keguruan, khususnya tutor IPA dan Bahasa Inggris;
b) honorarium yang diterima tutor tidak memadai
c) usaha peningkatan kemempuan Tutor tidak merata, banyak Tutor yang tidak pernah ditatar dan tempat tinggal Tutor jauh dari warga belajar.
Seorang Tutor untuk mampu melaksanakan tugasnya dengan baik seharusnya dilengkapi dengan kebiasaan seperti:
a) Kemampuan mengidentifikasi kebutuhan belajar
b) Kemampuan menyusun program prmbelajaran yang berorientasi pada tujuan yang diinginkan warga belajar
c) Kemampuan berkomunikasi agar mampu menggunakan berbagai cara alam pembelajaran.
d) Kemampuan menjalankan program dalam arti kemampuan mengorganisir program.
e) Kemampuan menilai hasil program. Dengan demikian Tutor harus mengalami standar yang harus dicapai pada setiap kurun waktu.
f) Kemampuan menggunakan hasil penilaian dalam usaha memperbaiki program di masa mendatang.
c. Prasarana dan Sarana
a) Prasarana
Permasalahan prasarana belajar yang dapat dipertimbangkan sebagai penyebab hambatan belajar antara lain:
Ø belum memiliki gedung sendiri, tetapi masih memanfaatkan Balai Desa; gedung sekolah yang kosong dan tempat pertemuan lainnya, sehingga tidak jarang meminjam tempat tinggal tokoh masyarakat atau rumah warga belajar yang luas. Dengan dilembagakannya PKBM sebagai tempat segala kegiatan yang ada di masyarakat, maka dapat digunakan oleh warga belajar Kejar Paket P, dan B Setara;
Ø lokasi gedung sekolah jauh dari tempat tinggal warga belajar; dan
Ø fasailitas belajar kurang memadai.
b) Sarana
Sarana belajar sebagai media yang digunakan untuk belajar membawa berbagai hambatan antara lain: (a) jumlah modul terbatas, yaitu 1 modul untuk 3 orang warga belajar, yang seharusnya 1 modul untuk tiap warga belajar, akibatnya mereka sukar untuk dapat melaksanakan proses belajar mandiri; (b) terbatasnya jumlah buku yang dapat menambah wawasan warga belajar; dan (c) kurang dimanfaatkannya sarana belajar lokal atau yang tersedia di lokasi kegiatan.
d, Pehabtanas.
Secara konseptual penilaian terhadap warga belajar Paket A, B dan C dilaksanakan dalam bentuk evaluasi proses pembelajaran modul, evaluasi sekelompok modul dan penilaian hasil belajar tahap akhir akhir (Perhabnatas). Secara umum langkah penilaian tersebut di lapangan sudah dilaksanakan, khusus untuk Perhabnatas materi pelajaran yang diujikan meliputi PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS dan matematika untuk Paket A dan ke lima bidang studi tersebut ditambah Bahasa Inggris untuk Paket B. pelaksanaan pengembangan soal dan pemerikasaan hasil ujian tidak dikelola oleh perencana dan pelaksana pembelajaran.
Pelaksanaan Perhabnatas masih menghadapi beberapa masalah, antara lain:
a) terbatasnya jumlah tenaga yang handal yang mampu menangani Perhabnatas;
b) pendaftaran peserta ujian yang sering terlambat;
c) pendaftaran peserta tidak sekaligus, akibatnya sering berbeda antara data yang dikirim oleh daerah dengan data yang diterima di pusat;
d) data peserta yang sering berubah-ubah, akibatnya menghambat dalam membuat pengumuman kelulusan;
e) longgarnya pengawasan, akibatnya di beberapa daeah ditemukan adanya kesenjangan pelaksanaan;
f) terlambatnya pengumuman akibat terlambat pengembalian Lembar Jawaban Kerja (LJK) dari daerah ke pusat, yang dapat mengakibatkan kurang kepercayaan peserta pada sistem yang dibangun.
D. program kejar paket A
a. Tujuan Program
Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga belajar sehingga dapat memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang setara dengan lulusan sekolah dasar.
b. Warga Belajar
Peserta program paket A setara SD adalah mereka yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) tidak bersekolah, usia 7-12 tahun
b) putus sekolah SD/MI yang dibuktikan dengan surat keterangan/raport dari sekolah asal
c) prioritas bagi warga masyarakat yang tidak mampu
c. Tutor
Dalam melaksanakan tugasnya tutor berkewajiban untuk:
a) membimbing kegiatan pembelajaran secara klasikal termasuk pembelajaran ketrampilan yang telah disepakati sesuai dengan jadwal
b) menyusun bahan evaluasi formatif (tugas mandiri, tugas kelompok, dan tes akhir modul
c) mengelola kegiatan pembelajaran di kelas, belajar kelompok, dan belajar mandiri.
d) Melaksanakan kegiatan evaluasi
e) mengadministrasikan materi evaluasi formatif dan evaluasi catur wulan
f) mengisi buku raport berdasarkan nilai yang tercantum dalam buku leger/ induk
g) mengorganisasikan warga belajar yang akan membentuk kegiatan usaha baik sendiri-sendiri maupun secara kelompok
h) membantu memfasilitasi warga belajar yang akan melanjutkan pendidikan
d. Sarana dan Prasarana
Ø Sarana belajar terdiri dari : papan tulis, alat-alat tulis, penerangan, papan nama kelompok belajar, kursi, meja, dll. Selain itu diperlukan sarana program pembelajaran terdiri dari: daftar hadir warga belajar, daftar hadir turor, buku tamu, buku administrasi kelompok, jadwal belajar/pertemuan, buku harian untuk menulis laporan kemajuan warga belajar tiap bulan
Ø Prasarana yang dapat digunakan untuk pembelajaran dapat menggunakan/ meminjam rumah penduduk, balai desa, banguna milik swasta/pemerintah, gedung sekolah dan bangunan yayasan.
E. Program Kejar Paket B
a. Tujuan Program
Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga belajar sehingga dapat memiliki pengetahuan , keterampilan dan sikap yang setara dengan lulusan SLTP
b. Warga Belajar
Peserta program paket B setara SLTP adalah mereka yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) Lulusan sekolah dasar/ Madrasah Ibtidaiyah dan paket A setara SD yang dibuktikan dengan ijazah
b) Drop out SLTP/MTs yang dibuktikan dengan surat keterangan/raport dari sekolah
c) Prioritas dari keluarga yang tidak mampu
c. Tutor
Tutor terdiri dari tutor mata pelajaran dan tutor keterampilan dengan syarat sebagai berikut:
a) memiliki ijazah minimal D2 jurusan kependidikan
b) menguasai subtansi materi yang akan diajarkan
c) sehat jasmani dan rohani
d) menguasai teknik pembelajaran partisipatif
e) mampu mengelola pembelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan
f) memiliki komitmen terhadap tugasnya sebagai tutor
d. Sarana dan Prasarana
Ø Sarana belajar terdiri dari : papan tulis, alat-alat tulis, penerangan, papan nama kelompok belajar, kursi, meja, dll. Selain itu diperlukan sarana program pembelajaran terdiri dari: daftar hadir warga belajar, daftar hadir turor, buku tamu, buku administrasi kelompok, jadwal belajar/pertemuan, buku harian untuk menulis laporan kemajuan warga belajar tiap bulan
Ø Prasarana yang dapat digunakan untuk pembelajaran dapat menggunakan/ meminjam rumah penduduk, balai desa, banguna milik swasta/pemerintah, gedung sekolah dan bangunan yayasan.
F. Program Kejar Paket C
a. Tujuan Program
Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga belajar sehingga dapat memiliki pengetahuan , keterampilan dan sikap yang setara dengan lulusan SMA.
b. Warga Belajar
Peserta program paket C setara SMA adalah mereka yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
d) Lulusan sekolah dasar/ Madrasah Ibtidaiyah dan paket A setara SD yang dibuktikan dengan ijazah
e) Lulusan sekolah dasar/ Madrasah Ibtidaiyah dan paket B setara SLTP yang dibuktikan dengan ijazah
f) Drop out SMA/SMK yang dibuktikan dengan surat keterangan/raport dari sekolah
g) Prioritas dari keluarga yang tidak mampu
c. Tutor
Tutor terdiri dari tutor mata pelajaran dan tutor keterampilan dengan syarat sebagai berikut:
a) memiliki ijazah minimal D3 jurusan kependidikan
b) menguasai subtansi materi yang akan diajarkan
c) sehat jasmani dan rohani
d) menguasai teknik pembelajaran partisipatif
e) mampu mengelola pembelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan
f) memiliki komitmen terhadap tugasnya sebagai tutor
d. Sarana dan Prasarana
Ø Sarana belajar terdiri dari : papan tulis, alat-alat tulis, penerangan, papan nama kelompok belajar, kursi, meja, dll. Selain itu diperlukan sarana program pembelajaran terdiri dari: daftar hadir warga belajar, daftar hadir turor, buku tamu, buku administrasi kelompok, jadwal belajar/pertemuan, buku harian untuk menulis laporan kemajuan warga belajar tiap bulan
Ø Prasarana yang dapat digunakan untuk pembelajaran dapat menggunakan/ meminjam rumah penduduk, balai desa, banguna milik swasta/pemerintah, gedung sekolah dan bangunan yayasan.
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Pendidikan Kesetaraan adalah salah satu satuan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal yang meliputi kelompok belajar (kejar) Program Paket A setara SD/MI, Program Paket B setara SMP/MTs, dan Program Paket C setara SMA/MA yang dapat diselenggarakan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Pusat kegiatan belajar Masyarakat (PKBM), atau satuan sejenis lainnya. Dalam program ini warga belajar yang telah selesai mengikuti pembelajaran dan mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) akan memperoleh ijasah setara SD, SLTP, dan SMA. Selain itu juga memperoleh bekal pengetahuan umum, dan ketrampilan.dengan adanya program kesetaraan masyarakat juga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain itu juga membantu tercapainya program pemerintah dalam mensukseskan pendidikan wajib belajar 9 tahun.
B. Saran
Hendaknya perlu adanya sosialisasi akan pentingnya pendidikan bagi warga belajar yang tidak dapat terlayani oleh pendidikan formal karena sesuatu hal. Dalam hal ini perlu peranan pemerintah yang dapat memberikan terobosan-terobosan demi kemajuan pendidikan di Indonesia. ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dari pemerintah untuk memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada setiap warga negaranya untuk mengakses pendidikan. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka salah satu upaya yang ditempuh untuk memperluas akses pendidikan guna mendukung pendidikan sepanjang hayat adalah melalui pendidikan kesetaraan. Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum yang mencakup Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMU).
Kemudian PKBM-PKBM yang ada hendaknya dapat memberikan layanan maksimal terhadap warga belajar sehingga tercapai tujuan pendidikan itu sendiri. Salah satu contohnya dengan memberikan ketrampilan bagi masyarakat dengan baik. Disamping itu hendaknya PKBM tidak hanya mengharapkan dana dari bantuan pemerintah saja demi berjalannya lembaga tersebut, namun harus ada inovasi tertentu, misalnya dengan memberdayakan warga belajar dengan membuat kerajinan-kerajinan yang bernilai jual.
DAFTAR PUSTAKA
Hendro, Siswoyo, Program DIKMAS/PLS
Joesoef,Soelaiman, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, Jakarta: PT Bumi Aksara, 1992.
Prof.Drs.Soelaiman Joesoef, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, Jakarta: PT Bumi Aksara, 1992,
Dra.Hj.Nuryanis.M.ag,Drs.H.Romli.M.Hum.pendidikan luar sekolah,kontribusi ditpenamas dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. jakarta: 2003
Langganan:
Postingan (Atom)
